Kamis, 5 Mei 2011
Oleh: Hanggara Fino Maigy
Ku masih duduk di bangku favoritku, meja wali kelas. Yach… begitulah namanya duduk di sini kurasa sangat nyaman.
Tadi ku membaca sebuah tulisan tangan dari Durratul Azkia. Tadi ku lihat ada tulisan, ”Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”.
“Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”. Semua orang tau. Apalagi orang-orang yang asli minangkabau, pasti ia tau makna dari kalimat yang tersusun rapi, yang berloghat asli minangkabau. Sebuah kalimat yang membuat orang takjub dengan budaya.
Tapi, aku berfikir, dan terus berfikir, bagiku, tulisan tersebut salah dan tidak bisa menghubungkan antara agama dengan budaya.
Kenapa..?? bagiku sebagian dari adat kita ada yang bertentangan dengan agama. Contohnya dalam tarian adat minangkabau yaitu Tari Pasambahan.Jika dilihat secara sepintas memang tidak berlawanan dengan agama, akan tetapi jika kita liat makin dalam dan semakin pasti ada yang tidak cocok dengan agama. Berfikirlah… apa itu??
Ya, itu benar, apakah seorang wanita menari dalam tarian adat tersebut,dengan lenggak-lenggok tubuhnya, atau dengan lentik jarinya itu atas kitabullah. Ya tentu tidak, dalam islam sangat di larang bagi kaum hawa untuk menari, apalagi itu dapat membuat sesuatu ketertarikan bagi kaum adam. Itu sangat tidak boleh dalam islam.
Aku masih berfikir dan terus berfikir. “kenapa ya ada kata-kata “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”. Atau ada makna lain? Coba kita fikir bersama.

0 komentar:
Posting Komentar